Home » » Saatnya KAMMI Membaca Sejarah

Saatnya KAMMI Membaca Sejarah

Written By KAMMI Komisariat Al-Fatih IAIN Pontianak on Kamis, 05 September 2013 | 10.23

Membaca dan menelaah sejarah tak cukup hanya dengan satu buku. Sejarah, seperti yang kita tahu sarat akan perspektif. Tapi di situlah, kecerdasan dan kejujuran menafsiri menjadi kebutuhan utama dari kita, sang pembaca sejarah.

Kepemimpinan adalah salah satu hal yang dipandang penting sejarah. Pemimpin jelas menjadi driversuara sejarah. Tentu saja, ia bukan sesatunya aspek. Namun, kepemimpinan menyejarahlah yang akan membawa si pemimpin dan peradaban yang dibentuknya langgeng dan menjadi bahan pembicaraan bertahun bahkan berabad setelahnya.
Kepemimpinan kini (bahkan sejak dulu) menjadi hal pelik. Aura perebutan lebih dominan ketimbang ihwal pemenuhan kesejahteraan rakyat yang semestinya menjadi titik sorot lebih kuat. Di negara ini, contohnya. Santer membumbung di atmosfer pemberitaan tanah air tentang pemimpin negeri yang mendapati komentar atas rangkap jabatannya di parpol. Titel demokrasi nampaknya belum menjadi kepahaman nasional sehingga bukannya semangat rakyat yang muncul saat pembahasan kepemimpinan malah apatisme dan keputusasaan.
Seperti apa pemimpin dan kepemimpinan bersejarah?
Pilihan untuk menjadi pemimpin bersejarah ada di tangan sang pemimpin. Seperti apa caranya, belajarlah dari sejarah. Pun, pilihan menjadi pemimpin bersejarah putih atau kelam juga turut diserahkan pada sangdriver. Sejarah putih atau kelam bukan dikotomi yang membuat kita apatis terhadap salah satunya. Keduanya tak bisa dipisahkan sebagai hal utuh yang menjadi bahan pembelajaran kita akan sejarah.
Dua aspek sejarah kepemimpinan yang harus menjadi landasan KAMMI adalah sejarah pemimpin Islam dan Indonesia. Keduanya menjadi identitas yang mencirikan gerakan kepemimpinan KAMMI. Dua hal ini juga turut menjadi penentu arah (flow) organisasi. (Bahasan kali ini menitikberatkan pada kepemimpinan Islam)
Kepemimpinan dalam sejarah Islam adalah hal yang sepatutnya menjadi rujukan pertama kita, KAMMI, organ yang menisbatkan diri dalam identitas muslim. Dalam tulisan KAMMI sebagai Identitas Peradaban,Fachry Aidulsyah, Kadep KP KAMMI UGM, menyatakan bahwa muara pembangunan peradaban yang KAMMI upayakan semestinya mengarah pada peradaban Islam sebagai orientasi permanennya.  Untuk itu, kepahaman akan seperti apa peradaban dan kepemimpinan Islam selayaknya menjadi bekal pokok para kader KAMMI. Atau jangan-jangan hingga kini, kita tidak tahu bagaimana sejarah pemimpin Islam kita.
Visi organisasi menjadi wadah permanen yang melahirkan pemimpin semestinya tidak semata ditafsirkan tentang way (cara) dan tool menujunya. Lebih luas dari itu, landasan historis kepemimpinan juga harus turut menyertai. Sejarah bukan hanya sebagai lembaran lawas. Pembaca cerdas akan menjadikan sejarah itu hidup. Ia menghidupkan nafas sejarah dengan membaca, menafsiri, mengkontempelasikan, membandingkan, menjadikannya pembelajaran, lebih lagi menjadikan diri dan masa depannya menyejarah.
Jika KAMMI merupakan pembaca cerdas sejarah, maka antusias untuk memahami sejarah adalah modal utama kita. Dalam studi di daurah marhalah 2 (DM2), KAMMI turut mencantumkan pembahasan tentang telaah kepemimpinan dua Umar (Umar ibn Khatab dan Umar ibn Abdul Aziz). Ini merupakan hal baik yang harus dipertahankan untuk kemudian dikembangkan. Mereka yang cerdas jelas tidak akan berhenti (puas) pada telaah kepemimpinan dua tokoh Islam saja. Allah telah menurunkan sejarah panjang para pemimpin Islam yang mampu kita serap darinya.
Sejarah kepemimpinan Islam tidak bisa dilepaskan dari keemasan kepemimpinan Muhammad Rasullullah dan keempat khulafaur rasyidin. Sampai mana kita mengetahui dan memahami telaah kepemimpinan mereka? Apakah sebatas pengetahuan bahwa di tangan merekalah Islam jaya? Atau justru kita hanya tahu urutan nama pemimpin tersebut (paska Rasul) tanpa tahu hal lain darinya?
Nyatanya, dinamika sejarah dalam kepemimpinan para khalifah sangat tinggi. Bukan semata untuk dibandingkan dan diunggulkan salah satunya hingga menjatuhkan yang lain. Varietas kepemimpinan lalu yang menjadi contoh untuk kita yang hidup di masa kini tak lain adalah anugerah Allah agar kita kaya akan input ilmu dan pembelajaran. Perlu diingat bahwa kejayaan yang dihadirkan para khalifah bukan semata tanpa bayang hitam. Artinya, dalam menempuh masa kepemimpinannya, para khalifah bukan tanpa kemelut yang keras. Pun, sejarah Islam dalam payung luas (hingga Dinasti Umayyah-Abbasiyah) tidak melulu berjalan smooth tanpa pertentangan. Dari aspek pergantian kepemimpinannya saja, ia mewajahkan ragam cara dan kisah yang bermacam-macam.  (Perihal ini akan dibahas di tulisan selanjutnya.
Penulis : Sofistika Carevy Ediwindra
Share this article :

Posting Komentar