“SETIAP MASALAH ADA JALAN KELUARNYA, SETIAP KONFLIK ADA SOLUSINYA, SETIAP KRISIS MENGANDUNG PELUANG.”
Pemimpin legendaris Prancis, Jenderal Charles De Gaulle, dalam bukunya ‘Swod of Power,’ menyatakan pemimpin harus mempunyai intelek, namun lebih penting lagi, ia harus mempunyai naluri. Naluri disini adalah semacam panca indera ke enam untuk membaca situasi yang tidak terbaca orang awam.
Pada dasarnya, pemimpin adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Setiap kali menghadapi masalah, seorang pemimpin mestinya selalu mengingatkan orang sekelilingnya: “setiap krisis mengandung peluang. Setiap masalah ada solusinya.” Dalam mencari peluang dan solusi, yang membedakan pemimpin dari pengikutnya adalah kemampuan untuk menyambung nalar dengan naluri.
Saudaraku, dinamika kepemimpinan disegala lini terus berganti. Namun, Akankah benang keberhasilan yang telah dirajut akan terus menuju ke arah perbaikan? Mungkinkah tongkat estafet kepemimpinan yang berganti dapat menjamin kemaslahatan bersama? Ataukah realita yang terjadi malah sebaliknya: Amanah kepemimpinan tidak lagi dilihat sebagai cita-cita besar perubahan, pemimpin malah sibuk melayani hasrat golongannya, seorang leader hanya berkutat dimasalah “Untung atau Rugi”, Wahh kalau memang ini yang terjadi kita dapat memastikan bahwa kepemimpinan yang didasari oleh kepentingan tidak akan pernah sampai pada titik sentral perubahan, karena bagaimana mungkin perubahan akan lahir dari seorang leader yang tidak adil, tidak memperhatikan aspirasi rakyatnya.
Siapakah yang ikhlas untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada leader yang tah acuh pada nasib masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang salah asuh dari peradaban yang penuh dengan kebimbangan. Konflik amanah leader ini bukan hanya berdiri diatas aspek kepemimpinan belaka, namun telah jauh merambah ke Ranah “kepercayaan” untuk melanjutkan tongkat estafet peradaban yang lebih baik.
Dalam menangani “krisis”, suatu kualitas yang sangat penting dalam sosok pemimpin adalah kemampun untuk berfikir diluar kelaziman_’think outside the box.’ Dalam situasi luar biasa, aturan-aturan yang berlaku dalam situasi normal tidak lagi relevan. Dalam situasi dimana ia dihujani seribu satu masalah, seorang pemimpin krisis harus segera menentukan prioritas: apa yang paling pertama harus diselamatkan dan bagaimana melakukannya. Pemimpin yang berpikir kaku seperti robot dan selalu mengikuti pedoman buku akan terus terkurung dalam krisis tersebut. Sebaliknya, pemimpin yang membuka diri pada segala opsi akan berhasil ke luar dari krisis.
Akhirnya, pemimpin yang baik harus memiliki beberapa karakter: intelektualitas yang tinggi, inovatif dan efektif, berani mengambil resiko, adaptif, naluri yang tajam, tangguh mental, mau introspeksi, belajar dari kesalahan, mampu menentukan prioritas, gigih mencari solusi, mampu beradaptasi, akhlaq yang baik, berpikir kritis dan peduli terhadap masalah”
Goresan tinta dari hamba yang Faqir: MURJANI
SRefleksi dan metamorfosa Suksesi HMJ Tarbiyah
SRefleksi dan metamorfosa Suksesi HMJ Tarbiyah
Posting Komentar